• header
  • web 2
  • Web 5
  • web 4

Selamat Datang di Website SMA Negeri 1 BATI-BATI | Terima Kasih Kunjungannya Selamat Datang di Website SMAN 1 BATI-BATI | Terima Kasih Kunjungannya

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 BATIBATI

NPSN : 30300701

Jl. A. Yani KM 33,3 Nusa Indah, Kecamatan Bati-bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan KP 70852


info@sman1batibati.sch.id

TLP : 0511-4777299


          

Banner

Statistik


Total Hits : 628901
Pengunjung : 202473
Hari ini : 137
Hits hari ini : 299
Member Online : 789
IP : 3.236.253.192
Proxy : -
Browser : Opera Mini

POTRET MINORITAS SOSIAL MASYARAKAT PINGGIRAN DI BALIK SEBUAH KADO PERKAWINAN (Ulasan tenta




 

  

Oleh: Drs. H. M. Yusransyah, M. Pd.

 

Sebenarnya tidak ada yang menarik di balik kata kado. Dalam kehidupan nyata, kado merupakan sesuatu yang biasa dalam rutinitas kehidupan manusia. Sebuah kado baru dianggap istimewa jika benda tersebut diberikan oleh orang istimewa atau memiliki nilai ekonomis yang tinggi, atau diberikan pada event yang istimewa pula. Kado perkawinan yang dijadikan sebagai judul cerpen “Kado Perkawinan” karya Hamsad Rangkuti dalam buku kumpulan cerpen Lukisan Perkawinan sama sekali tidak terkait dengan ketiga hal di atas. Lalu mengapa frasa yang terdiri atas dua kata tersebut dijadikan sebagai judul oleh Hamsad Rangkuti? Apa yang menarik dan dianggap istemewa di balik sebuah kado perkawinan sehingga dijadikan sebagai judul oleh pengarangnya?

Kalau kita cermati dengan mendalam, gabungan dua buah kata yang tampak sederhana itu memang pantas dijadikan sebagai judul oleh pengarangnya. Selain karena isi cerita terpusat pada frasa kado perkawinan, juga karena kedua kata itu merupakan kausalitas yang memungkinkan konflik cerita mencapai puncaknya. Dikatakan demikian karena konflik psikologis yang semula berawal dari adanya ketidakmantapan jiwa tokoh akibat rasa malu karena disindir, diejek, diperbincangkan diam-diam sebagai anak tukang cukur: “Anak tukang cukur itu mau menikah. Nasibnya baik. Dia mendapatkan jodoh seorang pegawai negeri. Siapa mengira, anak si tukang cukur, bisa mendapatkan jodohnya seorang pegawai kantoran”. 

Bagi kebanyakan pasangan suami istri yang baru saja melangsungkan hari perkawinan, kado biasanya menjadi pelengkap kebahagiaan, namun kehadiran sebuah kado dalam cerpen ini bersifat kontradiktif. Kado perkawinan yang diberikan oleh teman-teman suaminya ternyata berisi benda-benda yang sangat dibencinya, yaitu alat-alat cukur yang dapat membangkitkan kembali konflik kejiwaannya sebagai keluarga tukang cukur yang sangat dibencinya. Dengan hadirnya kado perkawinan itu terungkaplah siapa sebenarnya Sukri, kekasih yang kini telah menjadi suaminya. Dengan kado perkawinan itu  terungkap kalau seorang pegawai negeri yang kini telah menikahinya ternyata seorang tukang cukur. Dengan terkuaknya isi kado perkawinan itu berarti lenyaplah mimpi-mimpi Rabiah untuk menghapus semua predikat yang terkait dengan tukang cukur. Suami yang diharapkan dapat mengubah status sosialnya ternyata gagal mengubah keadaan yang diimpikannya sejak kecil.  Sejak hari perkawinan itu, Rabiah memang bukan lagi berstatus sebagai anak tukang cukur tetapi telah berganti dengan predikat yang lebih menyakitkan jiwanya, yaitu sebagai istri tukang cukur.

Dalam cerpen ini pengarang tampaknya mengambil jalan tengah. Pada satu sisi pengarang mengambil jalan prontal dengan tidak mengabulkan mimpi-mimpi dan harapan tokoh untuk menghapus predikat yang terkait dengan tukang cukur, namun pada sisi lain pengarang justru mengabulkan impian tokoh untuk bersuamikan seseorang yang memiliki pekerjaan yang dianggap terhormat paling tidak untuk ukurannya. Sukri, kekasih yang kini menjadi suaminya memang seorang pegawai negeri, namun, dia juga memiliki pekerjaan sebagai tukang cukur pada suatu departemen tempatnya bekerja. “Kau tidak boleh kecewa, sayang. Semua pekerjaan itu mulia. Aku adalah tukang cukur di kantorku. Aku mencukur para pegawai di departemen. Banyak pegawai seperti aku.”

Dengan jalan cerita yang demikian, cerpen Hamsad Rangkuti dalam cerpen “Kado Perkawinan” jelas ingin mengungkapkan potret minoritas kelompok sosial pinggiran. Dalam cerpen ini pengarang melukiskan suatu sketsa kehidupan salah satu golongan masyarakat yang diwakili oleh seorang gadis lulusan SMP dalam lingkungan keluarga yang memiliki pekerjaan sebagai tukang cukur. Sebagai kelompok sosial pinggiran seperti ini sangat tepat kalau Rabiah digambarkan oleh pengarang sebagai sosok yang memiliki obsesi dan pola pikir yang menganggap pegawai negeri sebagai pekerjaan bergengsi. Padahal untuk ukuran sebagian besar masyarakat sekarang, pekerjaan sebagai pegawai negeri bukan jabatan yang menjanjikan untuk orang yang berpikir materialistis. Sebagai potret minoritas kelompok sosial pinggiran, karakter  yang demikian memang sangat cocok untuk ukuran mereka. Setidaknya untuk ukuran Rabiah dan masyarakat pinggiran yang ditampilkan pengarang dalam cerpen ini, pegawai negeri dianggap lebih bergengsi dari pekerjaan lain yang ada di sekitarnya. Karena latar yang ditampilkan dalam cerpen ini adalah masyarakat pinggiran yang hanya mengenal beberapa jenis pekerjaan masyarakat, tentu akan dianggap implausibility kalau pengarang membandingkan tukang cukur dengan pengacara, akuntan,  atau dokter spesialis. 

Bagi masyarakat pinggiran, pegawai negeri memiliki nilai lebih dibandingkan dengan tukang cukur, tukang becak, atau buruh tani. Dengan perbandingan yang demikian akan lebih terasa kemasukakalan cerita. Hal ini memang terasa penting sebab pengarang tidak hanya dituntut untuk pandai bercerita, tetapi juga harus bertanggung jawab dari segi kemasukakalan cerita itu. Suatu cerita dikatakan masuk akal apabila cerita itu memiliki “kebenaran” bagi cerita itu sendiri. Dalam konteks ini, “kebenaran” bukan berarti suatu cerita harus benar-benar terjadi. Sesuatu yang benar-benar terjadi dalam masyarakat ini disebut dengan realistik, bukan masuk akal.

Persoalan mendasar yang diangkat Hamsad Rangkuti dalam cerpen ini adalah status sosial yang dikaitkan dengan suatu pekerjaan. Melalui eksplorasi tokoh Rabiah dengan kata-kata yang menyakitkan seperti gunting, sisir, pengetam rambut, dan pisau cukur yang selalu menghantuinya, ejekan yang selalu diterima, akhirnya Rabiah menikah dengan ‘pegawai negeri’ yang diimpikannya agar dapat menaikkan status sosialnya dalam masyarakat. Gambaran yang dilontarkan Hamsad dalam cerpen di atas merupakan gambaran problematis sosial. Dalam cerpen tersebut memang tidak terlalu tampak adanya ejekan dari kelompok sosial yang lebih tinggi terhadap kelompok sosial yang lebih rendah seperti tukang cukur. Ejekan tersebut lebih banyak merupakan tekanan psikologis yang dirasakan tokoh. Secara psikologis, pandangan tentang perbedaan status sosial yang terkait dengan pekerjaan, jabatan, atau sosial ekonomi itu tetap ada meskipun tampak samar-samar.

Dengan hadirnya kado perkawinan yang merupakan pemberian teman suaminya menjadi shock therapy yang dikemas apik oleh Hamsad sebagai titik balik dari semua impian yang diharapkan oleh tokoh Rabiah dan sekaligus merupakan jawaban dari sikap pengarang terhadap masalah yang dilontarkannya. Dari sudut pemikiran dan kenyataan ini, cerpen Hamsad Rangkuti ini memberikan isyarat agar kita pandai menghargai arti pentingnya suatu pekerjaan. Kita tidak boleh memandang rendah terhadap suatu pekerjaan. Dari sudut sastra, cerita semacam ini dianggap sebagai alat penegur, refleksi, perenungan, dan penciptaannya dapat dianggap sebagai guru masyarakat pembaca atau penikmatnya.

Melalui cerita yang disajikan, pengarang berusaha mengingatkan pembacanya agar jangan memandang rendah status sosial seseorang berdasarkan pekerjaan semata.  Suatu pekerjaan jangan dinilai dari kacamata orang lain. Semua pekerjaan mulia, asal dapat memberikan penghasilan yang halal. Pesan inilah yang dinasihatkan ibu Rabiah: “Kau malu anakku?” “Telingaku tebal menahan malu, Ibu. Mengapa ayah memilih pekerjaan tukang cukur? Apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakan ayah?”. “Semua pekerjaan itu mulia anakku.” Begitu si Ibu menasihati anak-anak mereka tentang makna dari sebuah pekerjaan bagi manusia. Kecuali barangkali ibu dari istri seorang maling.

Penggambaran ini sangat tepat terhadap suatu kondisi masyarakat yang selalu ‘mencuatkan’ status sosial seseorang tanpa mau mempertimbangkan dengan bijak apalagi mensyukurinya. Padahal masih banyak lagi Rabiah-Rabiah dan tukang cukur lainya yang juga mengimpikan kehidupan yang lebih, namun mereka tetap mensyukuri apa yang telah mereka peroleh. Inilah kenyataan hidup yang harus dijalani oleh manusia. Apapun pekerjaan yang kita geluti semuanya patut untuk kita syukuri.

Barangkali inilah sekilas nilai yang dapat kita peroleh dari cerpen “Kado Perkawinan” karya Hamsad Rangkuti. Nilai-nilai seperti inilah yang membuat cipta sastra menjadi lebih bermakna dalam arti mengajar dan merangsang seseorang untuk berpikir dan merenung tentang hidup dan kehidupan yang sesungguhnya. Dengan nilai-nilai yang dikandungnya, sastra akan mampu membuat rasa kemanusiaan manusia menjadi lebih manusiawi. 

 

Sebagai potret minoritas sosial, cerpen ini memang tidak berusaha untuk mengeksplorasikan sesuatu dengan lebih mendalam. Yang dipaparkan hanya sebagian permukaannya saja, yakni lukisan secara realistis. Ramsad Rangkuti telah berusaha untuk menyajikan sifat simbolik dari ceritanya yang dikemukakannya dengan gaya sastra yang terkesan utopis. Dengan gaya pemaparan yang biasa seperti ini,  cerita lebih berkesan karena realisasi dari realisme itu akan lebih cepat tersampaikan kepada para pembaca. 

Dari sisi yang lain, cerpen Hamsad ini merupakan protes sosial terhadap perilaku masyarakat yang dilihat dan ditemuinya. Setiap orang hendaknya selalu menghargai segala sesuatu yang dilakukan meskipun terkadang sulit untuk diterima sebagai kenyataan. Janganlah selalu menilai seseorang secara kasat mata. Manusia harus dinilai dari keluhuran hati seseorang untuk berbuat. Tampak sekali protes sosial Hamsad Rangkuti cukup tajam dan menusuk di dalam cerpen ini. Kata-kata ikonis seperti sisir, gunting, pisau cukur, pengetam rambut dan tukang cukur yang disuarakan oleh Hamsad terasa sebagai pemaparan realistis, tajam, dan gamblang sehingga sangat mudah diterima dan dicerna oleh masyarakat pembaca dan penikmat cerpen ini.

Penggambaran secara nyata membuat cerita ini sangat komunikatif dan yang lebih dipentingkan oleh Hamsad adalah unsur komunikasinya, yaitu sampainya suasana sosial yang disorotnya kepada penikmat karyanya (pembaca).  Apabila komunikan dapat menangkap apa yang dipaparkan, berarti misi yang disampaikan cerpen ini berhasil. Misi demikian memang dimiliki cerpen ini, karena tidak ada unsur yang sublim, semua yang diungkapkan pengarang dapat sepenuhnya diterima oleh pembaca.

(Penulis, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia

SMA Negeri 1 Bati-bati)

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : ENDANG NURAINI -  [endangkendal@gmail.com]  Tanggal : 07/06/2020
Maaf, sudah ketemu, terima kasih

Pengirim : ENDANG NURAINI -  [endangkendal@gmail.com]  Tanggal : 07/06/2020
Nuwun Sewu, Bapak, bisa minta naskah cerpen Kado Perkawinan karya Hamsad Rangkuti? Saya kehilangan file yang dulu saya ketik sendiri.


   Kembali ke Atas